Oleh: Asyraf Khairul Azam/ 20230074 & Najma Mutima Hayya/ 20230396
Pelajar Ma’had Al-Zaytun
MTs Ma’had Al-Zaytun mengadakan kegiatan Silaturahmi bersama Kepala Sekolah ust. Rizal Sumadiyo, M.Pd. yang di ikuti oleh seluruh pelajar kelas 7, 8, dan 9, yang dimana kegiatan ini di bagi menjadi 3 hari, dari tanggal 6-8 Januari 2026 untuk setiap tingkatannya. Kegiatan ini bertempat di Basmant Ali bin Abi Thalib dan berlangsung sejak pukul 07.40 hingga 10.10 WIB.
Pada kesempatan silaturahmi kelas 9, Kepala Sekolah menyampaikan penjelasan mengenai Pedoman Tata Kelola MTs Ma’had Al-Zaytun, yaitu buku pedoman terbaru yang menjadi acuan tata tertib dan aktivitas seluruh guru dan pelajar MTs. Dalam pemaparannya, Kepala Sekolah menyampaikan. "Pedoman ini tidak hanya ditujukan bagi para pelajar, tetapi juga berlaku bagi para guru dan seluruh civitas MTs Ma’had Al-Zaytun". tegasnya.
Pelajar Kelas 9
Penyusunan buku pedoman ini terinspirasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam qobliyah Jum’at bersama Syaykh Al-Zaytun, yang menekankan pentingnya kedisiplinan, adab, dan tanggung jawab dalam kehidupan pendidikan. Oleh karena itu, buku pedoman ini tidak hanya berisi aturan, tetapi juga menjadi panduan pembentukan karakter.
Melalui kegiatan silaturahmi ini, diharapkan para pelajar kelas 9 dapat melakukan refleksi terhadap proses belajar yang telah dijalani selama semester ganjil serta memahami dan mengamalkan isi pedoman dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Buku pedoman ini menjadi pedoman kegiatan sekolah bagi pelajar dan seluruh civitas MTs Ma’had Al-Zaytun demi terciptanya lingkungan belajar yang tertib dan berkarakter.
Pelajar Kelas 8
Setelah penyampaian materi dari Kepala Sekolah serta pembacaan tata tertib santri yang tercantum dalam buku pedoman, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan penyampaian pendapat dari para pelajar. Kepala Sekolah membuka ruang dialog dengan meminta tanggapan langsung dari siswa sebagai bentuk partisipasi aktif dalam evaluasi kebijakan sekolah.
Pada sesi tersebut, Attaya Fikri Rizqullah, selaku Ketua Angkatan 24, menyampaikan dua pertanyaan. Pertama, mengenai kebijakan pelajar yang diwajibkan melepas sepatu sebelum memasuki gedung pembelajaran, sementara guru tidak diberlakukan hal yang sama. Kedua, ia menanyakan alasan pelajar diwajibkan mempelajari 16 mata pelajaran, sedangkan guru hanya mengajar satu mata pelajaran sesuai bidangnya.
Sebelum memberikan pendapat pribadi, Kepala Sekolah terlebih dahulu meminta tanggapan dari pelajar lain. Dini Bandari Anggita kelas 9-B2 memberikan respon terhadap pertanyaan kedua dengan menyampaikan bahwa mempelajari 16 mata pelajaran justru memberikan ruang yang luas bagi pelajar untuk mengenali serta menentukan minat dan bakat mereka sejak dini. Pendapat ini menjadi salah satu sudut pandang penting dalam diskusi tersebut.
Menanggapi pertanyaan pertama, Kepala Sekolah menjelaskan bahwa kebijakan terkait penggunaan sepatu perlu dikaji secara objektif. Oleh karena itu, beliau mengusulkan agar dilakukan penelitian ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan akhir terkait kebijakan tersebut, sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan data dan pertimbangan yang matang.
Pelajar Kelas 7
Sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan oleh perwakilan pelajar banat, Najma Mutimma Hayya, yang menanyakan kebijakan terkait surat izin sakit yang harus ditandatangani oleh mudabbir asrama, sementara pada kondisi tertentu mudabbir tidak selalu berada di asrama pada pagi hari. Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah menjelaskan bahwa guru-guru asrama merupakan kepanjangan tangan dari mudabbir, sehingga penandatanganan surat sakit oleh guru asrama yang bertugas tetap dianggap sah dan tidak menjadi kendala dalam administrasi.
Diskusi ini berlangsung dengan tertib dan terbuka, mencerminkan suasana silaturahmi yang komunikatif, santai antara pimpinan sekolah dan para pelajar.
“Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah.”
Mantap... sering" silaturahim bersama kepala madrasah
BalasHapusSilaturahmi memperpanjang imajinasi
BalasHapus