Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan: Transformasi dan Strategi Implementasi KMA 1503 di MTs Ma’had Al-Zaytun

 

Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan:
Transformasi dan Strategi Implementasi KMA 1503 di MTs Ma’had Al-Zaytun

 Oleh : Rizal Eka Sumadyo,M.Pd. (Kepala Sekolah MTs. Mahad Al-Zaytun)

                Penjelasan tentang KMA 1503 tahun 2025 oleh Bpk. Casman,S.Pd.,M.Si.

INDRAMAYU – MTs Ma’had Al-Zaytun baru saja menerima kunjungan rutin dari Pengawas Sekolah pada hari Selasa, 20 Januari 2025 yakni  Bpk. Casman ,S.Pd.,M.Si. Kehadiran beliau adalah untuk mensosialisasikan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Kunjungan ini bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan sebuah seruan bagi para pendidik untuk menjawab kebutuhan zaman melalui adaptasi kurikulum yang lebih manusiawi dan kontekstual. Peraturan ini tidak hanya membawa semangat Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi madrasah untuk mengonstruksi struktur kurikulum yang lebih adaptif dan kaya.

Bpk. Casman menegaskan bahwa KMA 1503 hadir sebagai jawaban atas dinamika kebutuhan madrasah saat ini. Esensi dari peraturan terbaru ini adalah peralihan dari sekadar penuntasan materi menuju penguatan karakter dan kompetensi yang relevan dengan masa depan.

Perubahan paling fundamental dalam KMA 1503 tahun 2025 dibandingkan aturan sebelumnya terletak pada metode pencapaian kompetensi. Kurikulum kini berporos pada Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Jika sebelumnya fokus seringkali terpecah pada aspek teknis, kini guru diminta untuk menyentuh "jiwa" pembelajaran. Guru di MTs Ma’had Al-Zaytun diharapkan tidak hanya mampu mengajar secara kognitif, tetapi juga mengadaptasi nilai-nilai kurikulum—sebuah pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap harkat kemanusiaan siswa dalam setiap interaksi di kelas.

 Implementasi   struktur  kurikulum

Berdasarkan analisis dokumen teknis implementasi, MTs Ma’had Al-Zaytun menerjemahkan KMA 1503 melalui beberapa langkah strategis yang fokus pada keunikan lokal dan kebutuhan masa depan peserta didik:

1.    Personalisasi Layanan dan Inklusi Sekolah berkomitmen memberikan layanan Bimbingan dan Konseling yang terintegrasi untuk mendukung kesehatan mental siswa. Bagi siswa dengan potensi kecerdasan istimewa, sekolah menyiapkan program percepatan pemenuhan beban belajar serta pengayaan capaian pembelajaran secara individual. Selain itu, sebagai bentuk kemanusiaan, madrasah juga mengakomodasi pendidikan inklusif melalui program kebutuhan khusus yang disesuaikan dengan kondisi siswa.

2.     Diversifikasi Kurikulum dan Muatan Lokal Sesuai dengan konsep diversifikasi, MTs Ma’had Al-Zaytun mengintegrasikan kearifan lokal dan kekhasan madrasah ke dalam struktur kurikulum. Muatan lokal tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain dan tema Kokurikuler, mencakup bidang keagamaan, seni budaya, riset, hingga teknologi.

3.    Menjawab Tantangan Zaman: Coding dan Artificial Intelligence (AI) Menariknya, sekolah kini memiliki ruang untuk menyediakan mata pelajaran pilihan masa depan seperti Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI). Hal ini sangat relevan untuk membekali lulusan dengan dimensi penalaran kritis dan kreativitas di era digital.

4.   Penguatan Tim Kokurikuler Untuk memastikan 8 Dimensi Profil Lulusan tercapai, madrasah membentuk Tim Kokurikuler yang terdiri dari koordinator dan fasilitator. Tim ini bertugas merancang proyek-proyek pembelajaran yang menanamkan kemandirian, kolaborasi, dan kewargaan di luar jam pelajaran kelas tradisional.


Diskusi Pengawas Sekolah bersama Kepala Sekolah dan guru-guru 
pembina Oliampiade Madrasah Indonesia (OMI) MTs. Ma'had Al-Zaytun

 8 Dimensi Profil Lulusan: Menuju Kesempurnaan Karakter

 Sebagai kompas dalam proses pendidikan, KMA 1503 menetapkan 8 dimensi standar kompetensi yang harus tercermin dalam diri setiap lulusan madrasah. Dimensi-dimensi ini menjadi target utama dalam setiap kegiatan belajar, baik intrakurikuler maupun persiapan menuju Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI):

  1. Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan YME: Memperkuat hubungan spiritual dan akhlak mulia terhadap sesama dan alam.
  2. Kewargaan: Menumbuhkan kebanggaan identitas budaya dan rasa persatuan bangsa.
  3. Penalaran Kritis: Mengasah kemampuan analisis dan pemecahan masalah secara kontekstual.
  4. Kreativitas: Mendorong lahirnya gagasan orisinal dan inovasi dari tangan siswa.
  5. Kolaborasi: Membangun semangat kerja sama dan kemitraan yang solid.
  6. Kemandirian: Membentuk pribadi yang bertanggung jawab, memiliki inisiatif, dan mampu mengatur diri sendiri.
  7. Kesehatan: Menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental.
  8. Komunikasi: Melatih kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dan persuasif.

 Makna Bagi MTs Ma’had Al-Zaytun

 Bagi MTs Ma’had Al-Zaytun, kunjungan dan sosialisasi ini menjadi katalisator untuk mewujudkan visi Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan. Hal ini juga memberikan penekanan bahwa guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang menghidupkan "jiwa" KMA 1503. Penguatan kompetensi guru di MTs Ma’had Al-Zaytun kini diarahkan pada kemampuan menganalisis capaian pembelajaran, di mana madrasah dapat menambah hingga 6 Jam Pelajaran (JP) per minggu untuk memastikan siswa benar-benar mencapai pemahaman mendalam.

Tantangan bagi para guru saat ini adalah bagaimana mentransformasikan 8 dimensi tersebut ke dalam kegiatan belajar yang menggembirakan dan bermakna. Persiapan OMI pun kini memiliki ruh baru; ia bukan sekadar ajang adu kecerdasan, melainkan wadah bagi siswa untuk menunjukkan penalaran kritis, kemandirian, dan karakter komunikasi yang unggul. Dengan semangat KMA 1503, MTs Ma’had Al-Zaytun siap mencetak generasi yang tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga luhur budinya dan sadar akan peran kemanusiaannya di masa kini dan nanti.

 

Komentar