Makna lagu Indonesia Raya 3 stanza oleh Syaykh Al-Zaytun

Lagu 'Indonesia Raya' 3 stanza. Sejak pertengahan tahun 2017 sampai saat ini wajib dinyanyikan oleh santri dan guru saat memulakan pembelajaran jam pertama di kelas, atau lapangan. Hal ini juga dinyanyikan oleh seluruh karyawan Ma’had Al-Zaytun setiap memulakan tugas setiap pagi. Lagu Indonesia Raya 3 Stanza menjadi salah satu lambang negara dan menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Karena mengandung makna dan doa di dalamnya. Stanza satu menyeru Bangsa ini BERSATU, stanza kedua mengajak untuk berdo'a agar bangsa ini BAHAGIA, dan stanza ketiga mengajak kita berjanji INDONESIA  ABADI. Para santri Al-Zaytun menyayikan lagu Indonesia Raya tidak diiringi dengan musik tapi menyayikannya dengan dilantunkan dengan kata-kata agar dapat diresapi oleh nuraninya, oleh akal pikirnya, oleh hatinya, oleh mulutnya.







Syaykh Al-Zaytun Prof. Dr. AS Panji Gumilang, M.P. menyampaikan dalam tausiyah pada tanggal  25 Sep 2022 di Masjid Rahmatan Lil Alamin. “Selama ini lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan irama musik saja tidak dilantunkan dengan kata-kata yang diresapi oleh nuraninya, oleh akal pikirnya, oleh hatinya, oleh mulutnya, itu yang dilakukan hari ini kebanyakan seperti itu. Bagi bangsa Indonesia, lagu Indonesia Raya ini segala-galanya”.

Syakh Al-Zaytun mengulas “Dalam stanza 2 berbunyi Indonesia tanah yang mulia, bermakna di atasnya harus menjadi insan yang mulia karena tempatnya mulia. Indonesia tanah yang kaya, akan menjadi miskin kalau kekayaannya itu tidak dimanaj dengan ilmu pengetahuan, tidak dimanaj dengan ketulusan, tidak dimanaj dengan kelurusan manajemen. Lagu Indoensia Raya itu yang dinyayikan sebagai statement. Pada stanza 3 kita kita diajak mendo'a, agar INDONESIA BAHAGIA. Bagaimana membahagiakan bangsa Indonesia, rujuk kepada dasar negaranya. Menyujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

“Doa itu diucapkan untuk yang Ilahi, dilaksanakan untuk yang insani. Manusia yang adil itu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakannya, itu peradaban. Suburlah jiwanya, jiwa yang subur itu yang selalu ingat kepada Tuhannya. Selalu ingat kepada dasar yang telah disepakati. Suburlah bangsanya, bangsa yang subur tentunya bangsa yang bisa dihitung kebahagiaanya dari sisi kehidupan duniawi. Kehidupan ukhrowi itu ditentukan oleh kehidupan duniawi, di dunia ini yang menentukan. Surgakah yang kita buat atau neraka. Neraka di dunia itu, neraka kebodohan, neraka tidak mampu menguasai kehidupan ekonomi, neraka tidak mampu menguasai diri”.

“Suburlah rakyatnya, sadarlah hatinya. Orang yang bisa sadar hatinya dan sadar budinya, itu kalau selalu mengingat apa yang dicita-citakan. Cita-cita Indonesia ini berpijak pada Tuhan, berpijak kepada kemanusiaan yang adil dan beradab, berbijak pada persatuan, berpijak kepada rakyat yang mufakat dalam menentukan segala macamnya, berpijak  kepada keadilan sosial. Semuanya itu diperuntukkan untuk Indonesia, jangan untuk yang lain-lainnya. Kalau kita berhubungan diplomatik dengan negara lain itu urusan persahabatan, tapi jangan dijadikan pijakan itu untuk tujuan negara lain”. 

“Indonesia Raya 3 stanza ini, mestinya dikumandangkan, diinternalisasikan, dihabitualisasikan dalam kehidupan nyata sehingga dasar negara itu masuk dan diresapi. Pegang teguh dasar negara yang telah disepakati bersama”. (Aw)














Komentar

Posting Komentar